Bagi Siti Habibah (22 tahun), mahasiswi semester VIII Fakultas Tarbiyah jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di UIN ‘Syarif Hidayatullah’ Jakarta, melaksanakan PPKT di SMP Islam Al Syukro – Ciputat teramat sangat menyenangkan.
   PPKT atau Praktik Profesi Keguruan Terpadu adalah merupakan pembelajaran yang didominasi praktik, di sebuah sekolah yang ditunjuk oleh Laboratorium PPKT di UIN Jakarta.
   “Saya bisa mempraktikkan ilmu selama kuliah di SMP Islam Al Syukro, sebuah full day school yang Islami, dan menurut saya sangat baik, serta bermutu tinggi,” ujarnya saat ditemui di sela-sela penutupan PPKT yang dilaksanakan oleh delapan mahasiswa UIN Jakarta di SMP Islam Al Syukro, pada Kamis, 27 Mei 2010.
   Dengan PPKT selama empat bulan di Sekolah Islam Al Syukro, kata Siti, dirinya benar-benar menimba ilmu dan pengalaman mengajar yang sesungguhnya di dalam kelas. “Tak hanya itu, saya sangat menikmati sekali setiap ilmu yang diperoleh selama mengikuti PPKT, misalnya memahami secara langsung tentang silabus, materi pembelajaran, performance seorang guru di dalam kelas, tata cara mengajar, bagaimana membuat rujukan untuk memberi penilaian dan sebagainya. Pokoknya semua menyenangkan, dan banyak hal-hal baru yang saya peroleh selama PPKT di sekolah unggulan ini,” terangnya.
   Memang, kata dara manis berperawakan imut ini, PPKT itu sendiri cukup unik didalam pelaksanaannya. “Maksud saya, awalnya kita sebagai mahasiswa melakukan observasi terhadap para guru dalam mengajar. Semua hal mengenai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kita eksplorasi. Barulah belakangan, menjelang pertengahan dan PPKT usai, kita-kita inilah yang diobservasi sebagai calon guru yang sesungguhnya. Terutama, oleh para guru pamong yang membimbing dan mengarahkan kami para peserta PPKT ini,” tuturnya.
   Pokoknya, kata Siti, dirinya sepenuhnya memperoleh pengalaman-pengalaman baru dalam mengajar. “Dengan terjun langsung ke lapangan, dan melakukan interaksi sosial, tidak saja dengan para siswa SMP Islam Al Syukro yang sangat aktif dan pandai-pandai, tetapi juga dengan para guru yang memang sudah malang melintang mengabdi sebagai seorang pendidik. Sejauh ini, interaksi sosial dan komunikasi yang kami lakukan tidak ada hambatan, semuanya baik-baik saja,” ujarnya.
   Selain itu, lanjut Siti yang memang bercita-cita menjadi seorang guru Pegawai Negeri Swasta (PNS), dari pihak Kepala Sekolah SD-SMP Islam Al Syukro yakni Bapak Supangat Rohani MA pun sangat ‘ngemong’ atau memberi arahan para peserta PPKT secara lugas dan luas. “Sosok Pak Supangat, saya acungi jempol. Karena, hampir tiap seminggu sekali, kami melakukan diskusi yang berbobot dan saya pikir selama ini tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah. Misalnya tentang bagaimana menghadapi ujian TOEFL, bagaimana membuat KKM atau Kriteria Ketuntasan Minimal dan lainnya,” urai gadis berkerudung dan berkacamata ini.
   Menurut Siti, kalau pun dirinya bercita-cita untuk menjadi guru, itu adalah karena dirinya mencintai profesi sebagai guru. “Meski kata orang, penghasilan secara ekonomi seorang guru itu sangat minim, tapi mungkin itu adalah paradigma masa lalu. Kini, mungkin sudah banyak guru yang berpenghasilan lebih dari cukup. Lagipula, kalau pun kelak menjadi guru, insya Allah saya menginginkan untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS),” ungkapnya. “Lagipula ‘kan saya juga bakal calon ibu rumah tangga,” tukasnya sembari tersenyum manis. (fdl)