Masih dalam rangkaian kegiatan peresmian pengoperasian Gedung Pusat Sumber Belajar (PSB), di penghujung acara diselenggarakan pula Seminar bertemakan ‘Pembelajaran Berbasis Information and Technology (IT)’, dengan menampilkan pembicara yakni Ketua Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa Republika, Ibu Sri Nurhidayah.
   Dalam paparannya, Ibu Sri menegaskan bahwa dunia anak-anak kita saat sekarang ini sangat berbeda sekali dengan dunia kita semasa anak-anak kecil dulu. “Bagi anak-anak zaman sekarang, benda-benda elektronik seperti Laptop, Notebook, Layar Sentuh (ATM perbankan, TV Pesawat, Handphone dan lainnya) sudah sedemikian akrab dan familiar mereka pergunakan. Bahkan termasuk e-Money dan lain-lain,” ujarnya.
   Dengan kondisi seperti itu, kata Ibu Sri, tak bisa lagi kita sebagai orang tua maupun guru melarang kreatifitas anak-anak untuk menggunakan teknologi hingga yang paling aktual sekali pun.
   “Anak-anak tetap harus menjadi to be develop, sementara kita sebagai orang tua dan gurunya harus menjadi teladan bagi mereka, dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi sebaik mungkin. Sehingga anak-anak memiliki acuan tersendiri, tentang bagaimana seharusnya memanfaatkan teknologi bagi pengembangan kreatifitas mereka dan memacu nilai lebih atas bakat serta potensi diri yang sebenarnya mereka miliki,” tuturnya.
   Beberapa contoh pengejawantahan guru yang teladan (bagi siswa-siswinya) dalam menggunakan fasilitas IT, kata Ibu Sri, adalah tidak kerapkali menggonta-ganti alat elektronik seperti handphone, laptop, notebook dan lainnya. “Selain itu, semaksimal mungkin tidak menggunakan program software bajakan, mencintai produk-produk IT buatan Indonesia, dan lebih memilih perangkat elektronik IT yang berkode ‘Recycle’. Maklum, sampah elektronik (laptop, handphone bekas dan lain-lain) di muka bumi ini, dalam satu tahunnya bisa mencapai 40 juta ton. Sedangkan Negara-negara yang paling banyak memproduksi sampah elektronik itu adalah Amerika Serikat, Cina, India dan Indonesia,” ujarnya mengutip sebuah hasil survey.
    Kecenderungan saat ini, kata Ibu Sri, hampir semua pelajar telah mengenal dan akrab dalam dunia maya yang terhubungan dengan situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan lainnya. “Nah, dalam kaitan ini, para guru juga tidak boleh ketinggalan dari para anak didiknya di sekolah. Guru yang menjadi teladan dalam menggunakan fasilitas IT, harus senantiasa mengajarkan anak-anak untuk selalu berhati-hati berkomunikasi dan menyampaikan informasi melalui situs jejaring sosial tadi.
   “Misalnya, dalam konteks mengisi atau mem-posting data diri pribadi di internet, hendaknya jangan sekali-sekali mengungkapkan data diri pribadi secara vulgar dan apa adanya. Ingat, bahaya mengancam di dunia maya, karena akan selalu hadir ‘monster pencuri data’ diri pribadi. Untuk itu, selalu ingatkan anak-anak untuk melaksanakan Net-Tiket atau Etika Berinternet yang sopan dan santun,” terangnya.
   Hal lain yang harus dilakukan para guru, kata Ibu Sri, adalah memberi teladan kepada anak-anak didik mengenai prinsip-prinsip dalam menulis di internet, yaitu menulis dalam format Ejaan Yang Disempurkan (EYD), dan menunjukkan jati diri seperti layaknya seorang guru teladan, bukan seperti generasi muda yang tengah mewabah dengan gaya ‘Alay’. (fdl)