“Anakku ini bakatnya apa ya, dan besok kalau sudah besar jadi apa ya?” Begitulah contoh pertanyaan yang sering terlontar menyangkut bakat dari seorang anak. Bakat itu sendiri adalah merupakan talenta untuk membangun kekuatan pribadi anak di masa mendatang.
   Kesadaran akan sisi kekuatan seorang anak perlu digali dengan bantuan orang tua. Kesadaran akan pentingnya mengembangkan sisi kekuatan anak-anak ini tampaknya sangat disadari oleh orang tua dan pendidik yang membimbing siswa-siswa berkebutuhan khusus dalam mengolah pengetahuan dan ketrampilan mereka.
   Bakat dalam diri anak merupakan anugerah sejak lahir yang musti disyukuri. Namun, orangtua tidak boleh hanya berdiam diri. Perlu stimulasi untuk mengasah bakatnya. Orangtua mana yang tidak ingin anaknya mengukir prestasi. Bakat saja tidak cukup membawa anak menorehkan prestasinya. Ditambah stimulasi dan dorongan, bakat akan menjadikan anak berprestasi.
   Perbincangan menarik mengenai optimalisasi bakat anak ini berlangsung di hall serbaguna Sekolah Islam Al Syukro, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, pada Sabtu, 5 Maret 2011, melalui sebuah acara yang bertajuk PARENTING WORKSHOP: MENUMBUHKAN PERCAYA DIRI ANAK DENGAN OPTIMALISASI BAKAT.
   Acara yang digagas bersama antara Sekolah Islam Al Syukro dengan PRIMAGAMA, DMI PRIMAGAMA, COMCARE dan BRAINY LAP PTE. LTD Singapore ini menampilkan pembicara tunggal yakni Bapak Fanny Fauzi Hanifunni’am, seorang psikolog dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. (Sedianya, sesuai brosur dan undangan, pembicara pada Parenting Workshop ini adalah Ibu Siti Solichah, seorang Psikolog dari almamater yang sama).
   Menurut Pak Fanny---yang tampil dengan gayanya yang khas dan jenaka---, urgensi mengoptimalkan bakat anak dikarenaka sejumlah tuntutan, mulai dari Era Globalisasi dan Perdagangan Bebas; Tingginya Tuntutan dan Kompetisi; Semakin Banyaknya Kedua Orangtua yang Bekerja; Perkembangan Fase Anak menjadi Remaja; dan tuntutan atas Prestasi Anak itu sendiri.
   “Susahnya, kini anak-anak justru semakin akrab dengan perangkat multimedia. Termasuk keakraban mereka dalam menggunakan situs jaring media sosial seperti Facebook, Twitter dan lainnya, atau asyik seharian bermain Game Online maupun Playstation. Akibatnya, berdampak negatif. Sebab, hal ini akan membuat anak semakin bersikap individualistis,” tutur Pak Fanny yang juga menjadi seorang guru di Homeschooling PRIMAGAMA.
   Untuk menghindari anak memiliki sikap individualistis ini, kata Pak Fanny, orang tua akan lebih baik untuk secara aktif mengajak dan mengarahkan anak untuk terlibat dalam komunitas-komunitas sosial yang dapat membuat anak menjadi bergaul secara positif antar sesama kawan-kawannya, atau bersosialita.  (fdl)